Ajaran agama Islam melakukan kurban, tindakan mendekatkan diri kepada Allah Swt, pada Hari Raya ‘Id-u `l-Adhha tidak dapat disebut sebagai sacrificial (sesajen), karena paling kurang ada tujuh hal ;
Pertama, amalan kurban itu adalah untuk memperingati dan mencontoh ketulusan peran sebuah keluarga yang sakinah (mawaddah dan rahmah) yaitu Nabi Ibrahim dan Isma’il serta isteri Nabi Ibrahim Siti Hajar yang setia dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.
Kedua, Kitab Suci Alquran menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging atau darah binatang korban itu, melainkan takwa dari orang yang melakukannya. Dijelaskan dalam Kitab Suci surah al-Hajj/22 ayat 37, artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).
Ketiga, takwa yang dicapai melalui ibadah korban itu akan melahirkan insan yang mempunyai kesadaran intensif tentang apa yang akan menjadi akibat bagi segala aktivitas dan amal perbuatannya jauh di belakang hari kelak dan yang kemudian menjalankan tindakan dan amal perbuatan itu dengan penuh tanggungjawab moral (akhlak) kepada Allah Swt, kepada insan dan lingkungannya.
Keempat, bahwa penyelenggaraan kurban itu adalah untuk menanamkan pendidikan sosial berupa perhatian yang lebih besar kepada kaum fakir miskin dengan membagikan sebagian daging korban itu untuk mereka. Dijelaskan dalam Kitab Suci Alquran Surah al-Hajj/22 ayat 36. Itulah ruh yang terkandung dalam tasauf kurban.
Kelima, bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan jerih payah sendiri untuk meraih kesuksesan adalah hakekat hidup yang bermakna. Sementara itu, pengorbanan adalah tuntutan perjuangan yang tak mungkin terelakkan. Keduanya harus dibarengi dengan sikap lapang dada, sabar dan tahan menderita demi mencapai cita-cita yang mulia. Hanya pandangan hidup demikianlah yang akan memberi kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.
Keenam, secara sosiologis dan antropologis, agama adalah sistem simbol (lambang). Di balik lambang (simbol) itu terdapat hikmah yang lebih intensif dan prinsipil, seperti ibadah kurban ini. Berkurban adalah tindakan yang disertai pandangan yang jauh ke depan, yang mengindikasikan bahwa kita tidak mudah tertipu oleh kesenangan sesaat, kesenangan sementara dan kemewahan duniawi yang menipu, kemudian melupakan kebahagiaan dan kehidupan abadi (eternal life). Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda, artinya; Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak berkorban dan bermujahadah). (HR Tirmidzi). Inilah inti tasawuf korban.
Ketujuh, mukmin yang istiqomah (konsisten) sungguh pantang jika sedang menderita (mendapat cobaan dari Allah dengan kesusahan), lalu meratapi nasib dan menyesali perjalanan hidup ini, kemudian kehilangan gairah dalam hidup. Karena pada hakekatnya tidak seorang pun di antara manusia yang pernah benar-benar terlepas dan terbebas dari pengalaman hidup yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan. Justru kita harus menerima penderitaan itu dengan sabar menanggungnya. Kemudian dijadikan cambuk, malah modal dan motivasi untuk berjuang, berupaya sungguh-sungguh dan bermujahadah dengan menanamkan semangat berkurban.
SwdNoor