Di tengah kejayaan itu, Imam Al-Ghazali mulai merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ia mampu menjelaskan hukum, debat, dan filsafat dengan sangat meyakinkan—tetapi ia tidak lagi merasa yakin dengan ketenangan hatinya sendiri.
Ia kemudian merenung:
“Apakah semua ini benar-benar membawaku kepada Allah, atau hanya membawaku kepada pujian manusia?”
Kegelisahan itu semakin dalam. Ia mulai kehilangan rasa nikmat dalam mengajar. Lidahnya bisa berbicara, tetapi hatinya terasa diam. Ia merasa ada jurang antara ilmu yang ia ajarkan dan keadaan jiwanya sendiri.
Hingga akhirnya, ia jatuh dalam kondisi yang tidak banyak orang tahu: krisis spiritual yang sangat berat.
Keputusan yang Mengguncang Dunia
Suatu hari, Al-Ghazali mengambil keputusan yang mengejutkan semua orang.
Ia meninggalkan Baghdad.
Ia meninggalkan kursi kehormatan.
Ia meninggalkan madrasah yang membesarkan namanya.
Ia bahkan meninggalkan kehidupan ilmiah yang selama ini menjadi identitasnya.
Orang-orang tidak mengerti. Sebagian mengira ia sedang sakit. Sebagian mengira ia sedang lari dari tanggung jawab.
Tetapi kenyataannya jauh lebih dalam:
Ia sedang mencari Allah dengan cara yang tidak bisa lagi ditemukan di keramaian dunia.